Social Icons

Friday, July 13, 2012

FAKTA AGAMA DAN FENOMENA KEAGAMAAN


FAKTA AGAMA DAN FENOMENA KEBERAGAMAAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Agama adalah akspresi simbolik yang barmacam-macam dan juga marupakan respon seseorang terhadap sesuatuyang di fahami sebagai nilai yang tidak terbatas. Ekspresi simbolik merupakan karakteristik utama dalam memahami makna agama.dengan demikian, tema pokok penelitian ilmiahterhadap agama adalah fakta agama dan pengungkapannya atau dalam bahasa sederhananya upaya menjadikan agama sebagai sasaran kehidupan dan kebiasaan keagamaan manusia ketika mengungkapkan sikap – sikap keagamaannya dalam tindakan-tindakan seperti do’a, ritual-ritual, konsep-konsep religiusnya, kepercayaan terhadap yng suci dan sebagainya. Meskipun membacakan hal-hal yang sama berbagai disiplin mengamati dan meneliti dari aspek-aspek tertentu yang sesuaidengan tujuan dan jangkauannya.
Persoalan agama tidak konstan akan tetapi selalu menyesuaikan sesuai dengan kondisi social masyarakat, dalam arti keduanya saling mempengaruhi sehingga menurut taufik Abdullah, setidaknya penelitian agama pada umumnya bermuara pada tiga poin utama yaitu:
1.    Menetapkan agama sebagai doktrin yang berangkat dari keinginan mengetahui esensi ajaran dan kebenaran agama, sebagai mana dilakukan oleh para mujtahid dan pemeluk agama. Dalam hal ini kajian di dalamnya adalah ilmu-ilmu keagamaan atau juga perbandingan agama.
2.    Memahami struktur dan dimnamika masyarakat agama, dimana agama merupakan awal dari terbukanya suatu komunitas atau kesatuan hidup yang diikat oleh keyakinan akan kebenaran hakiki yang sama dan memungkinkan berlakunya suatu patokan pengetahuan yang juga sama. Sehingga meskipun berasal dari suatu ikatan spiritual, para pemeluk agama membentuk masyarakat sendiri yang berbeda dari komunitas kognitif lainnya ( sosiologi, antropologi, sejarah, dan lain seterusnya).
3.    Mengungkapkan sikap anggota masyarakat terhadap agama yang di anut (psikologi agama) jika katagori pertama mempersoalkan substansi ajaran dengan segala refleksi pemikiran terhadap ajaran, katagori kedua meninjau agama dalam kehidupan social dan dinamika sejarah, katagori ketiga adalah usaha untuk mengetahui corak penghadapan masyarakat terhadap symbol-simbol dan ajaran agama.
Penelitian agama tidak cukup hanya bertumpu pada konsep agama (normative) atau hanya menggunakan model ilmu-ilmu social melainkan keduanya saling menopang. Peneliti yang sama sekali tidak memahami agama yang diteliti, akan mengalami kesulitan karena ralitas harus difahami berdasarkan konsep agama yang di fahami, berangkat dari permasalahan tersebut, pendekatan-pendekatan metodologis dalam study atau kajian tentang agama secara terus menerus mendapat perhatian cukup besar dari para intelektual agama. Dalam perkembangannya kemudian dirumuskan berbagai pendekatan yang diadopsi atau berdasarkan disiplin-disiplin keilmuan tertentu seperti sejarah, filsafat, psikologi, antropologi, sosiologi termasuk juga fenomenologi . pendekatan yang diupayakan untuk sekilas dibahas dalam tulisan ini adalah pendekatan fenomenologi agama, dalam pengertian sebuah kajian yang dilakukan untuk memahami esensi (makna) dan atau melalui menifestasi fenomena keagamaan dari agama tertentu.
1.2         Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka timbullah beberapa permasalahan yaitu:
1.2.1        Apa pengertian dari fakta agama?
1.2.2        Apa yang dimaksud dengan islam popular dan islam formal?
1.2.3        Bagaimana fenomena dalam keberagamaan?
1.2.4        Apasaja langkah-langkah operasional fenomenologi dalam agama?
1.2.5        Apasaja sisis positif dari fenomenologi agama?
1.2.6        Apasaja sisi negative dari fenomenologi agama?



1.3         Tujuan Masalah
Tujuan dari masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.3.1        Untuk mengetahui pegertian dari fakta agama.
1.3.2        Untuk mengetahui islam popular dan islam formal.
1.3.3        Untuk mengetahui fenomena keberagamaan.
1.3.4        Untuk mengetahui langkah-langkah operasional fenomenologi agama.
1.3.5        Untuk mengetahui sisi positif dari fenomenologi agama.
1.3.6        Untuk mengetahui sisi negative dari fenomenologi agama.


BAB II
PEMBAHASAN
1.2.1        FAKTA AGAMA
Adalah fenomene yang benar-benar terjadi yang di dalamnya terdapat beberapa pemasalahan yang belum tentu menurut agama itu bener.
Pengalaman muslim Indonesia terhadap kenyataan social dari masyarakat muslim didunia sangat kurang. Walaupun kita mengaku kenal mengenal muslim diwilayah lain, pngetahun mereka baru terbatas pada kenyataan bahwa mereka adalah sesame muslim. Tapi jika ditanyakan tentang keadaan social dan budaya mereka, nampaknya tidaklah banyak yang mereka ketahui hal ini dikarenakan kajian keislaman di Indonesia kurang memperhatikan masalah social budaya di Negara-negara muslim, misalnya saja bagaimana keadaan islam di iran dan bagai mana islam bertindak dengan budaya Persia, kurang sekali dipelajari. Padahal informasi mengenai keadaan social budaya wilayah muslim didunia cukup banyak buku-buku yang ditulis oleh antropologi tentang mereka cukup banyak.
Kenyataan diatas menunjukkan bahwa kajian agama dengan manggunakan perspektif cross culture dibutuhkan untuk lebih memahami realitas agama yang lebih luas. Kajian agama dalam perspektif lintas budaya sangat bergina untuk melihat realitas empiris agama dalam wilayah yang luas. Pemahaman tentang realitas yang berbeda akhirnya akan menumbuhkan sikap menghargai terhadap perbedaan dalam melaksanakan agama. Lebih dari itu kajian lintas budaya juga akan memberikan informasi tentang berapa realitas agama tidak bisa steril dari pengaruh budaya. Sebagai contoh kajian lintas budaya disini akan dibahas islam di asia tenggara.
Sebagai wilayah kajian maupun sebagai salah satu area kajian, islam diasia Tenggara dan di Indonesia khususnya pada awalnya tidak menarik perhatian. Meskipun demikian, dalam perkembangannya, dengan memakai ukuran apapun islam di Asia Tenggara merupakan suatu komunitas muslim penting, tidak saja karena jumlah penduduk muslim yang hamper separuh dari penduduk dunia islam dengan Indonesia yang mencapai 80% dari 200 juta, tapi juga karena perkembangan islam di Asia tenggara termasuk paling mengesankan, jik pada decade 1980-an islam di Asia tenggara tidak diliriksama sekali misalnya di ungkapkan oleh denis Lombard ataupun dianggap sebagai sebagai bukan islamsebenarnya karena Ari sinkretik yang begitu menonjol, sekarang islam di Asia Tenggara menjadi perhatian Khusus. Beberapa alasan mengapa islam di Asia Tenggara mendapat perhatian. Pertama, perkembangan islam diasia tenggara mengesankan terutama jika dikaitkan  dengan wacana Global dunia. Kedua, corak pendidikan para intelektual muslimdi Asia tnggara lebih menerima ide-ide ilmu social yang berkembang di barat. ketiga, Islam di Asia tenggara memberikan gambaran real terhadap apa yang disebut budaya loka yang mencerminkan suatu pertemuan budaya, social dan intelektual antara budaya lokal dan Islam.
Kajian tentang agama dan bdaya di Indonesia tentunya dapat mengembangkan konsep-konsep di atas. Sebab bukan saja Islam di Indonesia menawarkan suatu kenyataan realitas keagamaan tetapi lebih dari itu Islam di Indonesia dapat dijadikan model dalam menghadapi dua hal. Pertama, mdel untuk menjebatani antara budaya local dan Islam mengingat Indoneisa terdiri dari beberapa ethnis budaya. Perbedaan-perbedaan manifestasi Islam di setiap wilayah akan memberikan model bagi penjelajahan teori. Kedua, Islam local di Indonesia mungkin bisa dijadikan model bagimana Negara Islam menerima ide-ide global. Missal saja pengalaman Indonesia dalam berdemokrasi akan sangat berarti bagi dunia muslim lainya.
1.2.2        ISLAM POPULER DAN ISLAM FORMAL
Berikut ini walaupun tidak baru akan dipaparkan beberapa alternative model riset yang pernah ditawarkan untuk meneliti Islam,utamanya dalam hubungannya dengan budaya.
Konsep islam popular dan islam formal diadopsi dari konsep popular rellegion and official rellegion yang berkembang di agama-agama yang mempunyai system pendekatan yang berjenjang serta mempunyai “office” kekuasaan untuk menentukan kebenaran suatu pengalaman agama. Konsep seperti ini dapat dilihat dalam sejarah kuno agama Kristen yang mempunyai system ekslestikal pendeta, dimana pendeta mempunyai kuasa untuk menghakimi kebenaran suatu pengalaman agama. Praktik agama yang sesuai dengan keputusan dewan kependetaan inilah yang dianggap sebagai suara resmi “official” gereja tentang praktekagama yang benar. Tenpa persetujuan dari dewan kependetaan, maka suatu pengalaman keagamaan dalam kategori kedua ini adalah praktek-praktek keagamaan yang bercampur dengan tradisi local/bahkan pengalaman dari tradisi-tradisi keagamaan local sebelumnya dating Kristen. Karan kebanyakan kalangan awam yang melakukan kegiatan keagamaan model ke dua ini, maka julukan popular rellegion dipakai walaupun dalam batasan tertentu Islam mungkin juga mengenal suatu lemabag yang dapat mengkalim kebenaran suatu pengalam agama, sifat dr keputusan lembaga ini tidak dapat mengikat semua muslim. Hal ini jelas berbeda dengan tradisi Kristen. Dan jika yang dipakai ukuran populer adalah praktik keagamaan yang telah bercampur dengan tradisi local, dalam Islam tentu sulit untuk menemukan suatu pengalaman keagamaan yang tidak dipengaruhi oleh tradisi local.
Disamping itu, karena bervariasi maka tidak ada suatu paradigm tunggal yang dipakai untuk menghakimi mana yang official dan populer. Dengan mengesampingkan perbedaan itu, beberapa ahli memakai kerangka itu untuk meneliti tentang Islam. Gambaran umum bahwa populer Islam itu berwujud praktik tasawuf yang memang banyak dipraktikkan oleh masyarakat bawah atau masyarakat secara mayoritas.
Jaques waardenburg memakai populer islam untuk meneliti dua hal. Pertama, memakai konsep populer Islam untuk merujuk praktik-praktik keagamaan yang bersifat local. Seperti ritual untuk memperingati kelahiran Nabi, ritual untuk menghormati kehidupan sufi dan tradisi keagamaan yang merakyat. Kedua, gerakan-gerakan semacam ratu adil, tokoh agama tertentu dan sebagainya.
Ernest Geller dalam kajiannya menunjukkan bahwa dua kategori tentang kajian populer dan official tersebut dapat diartikan dengan perwujudan dari dua tradisi. Yaitu little tradition dalam Islam yang dalam bentuknya terliahat jelas dalam praktik sufi/pengalaman keagamaan yang berpusat pada tokoh-tokoh kahrismatik.
Sementara itu official Islam tercermin dalam kehidupan para intelektual Islam yang cenderung berpikir formal dan legalistic yang dikategorikan Geller sebagi muslim yang lebih berorientasi pada syari’ah.
1.2.3        FENOMENA KEAGAMAAN
Fenomena agama adalah fenomena universal manusia. Fenomenologi berasal dari kata “phainein” yang berarti memperlihatkan. Menurut Hadiwijoyo, kata fenomena berarti “penampakan”, seperti: demam, meriang, pilek, yang menunjukkan fenomena gejala penyakit.
Selma ini belum ada laporan penelitian dan kajian yang menyatakan bahwa ada sebuah masyarakat yang tidak mempunyai konsep tentang agama. Walaupun perinstiwa social telah mengubah orientasi dan makna agama, ha itu tidak berhasil meniadakan eksistensi agama dalam masyarakat. Sehingga kajian tentang agama akan terus berkembang dan menjadi kajian yang penting, pernyataan bahawa agama adalah suatu fenomena abadi. Di sisi lain juga memberikan gambaran bahwa agama tidak akan lepas dari pengaruh realitas di sekelilingnya. Seringkali praktik-praktik keagamaan pada suatu masyarakat dikembangkan oleh doktrin ajaran agama dan kemudian disesuaikan dengan lingkungan budaya. Pertemuan antara doktrin agama dan realita budaya terlihat sangat jelas dalam praktik-praktik ritual agama. Dalam Islam, misalnya: perayaan idul fitri di Indonesia yang dirayakan dengan tradisi sungkeman, bersilaturrahmi kepada yang lebih tua.
Di Indonesia Islam menjelma menjadi agama yang sinkretik, sementara di Maroko Islam mempunyai sifat yang agresif dan penuh gairah. Perbedaan manifestasi agama ini menunjukkan betapa realita agama sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya. Perdebatan dan perselisihan dalam masyarakat Islam sesungguhnya adalah perbedaan dalam masalah interpretasi dan merupakan gambaran dari pencarian bentuk pengalaman. Agama yang sesuai dengan konteks budaya dan social. Misalnya dalam menilai persoalan-persoalan tentang hubungan politik  dan agama yang dikatikan denagn persolan kekuasaan dan suksesi kepemimpianan adalah persoalan keseharain manusia dalam hal ini interpretasi agama dan pengunaan simbol-simbol agama untuk kepanringan kehidupan manusia sehingga peran dan makan agama akan beragama sesuai dengan keragaman masalah sosialnya.
Antropologi sebagai sebuah ilmu yang mempelajari tentang manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antroplogi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk memahami perbedaan kebudayaan manusia dan interksi sosialny dengan berbagai budaya. Nurcholis Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam, karena konsep manusia sebagai khalifah (wakil Tuhan) di bumi, misalnya merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam.
Posisi penting manusia dalam islam juga mengindikasikan bahwa persoalan utama dalam memahami Islam adalah bagaimana memahami fenomena agama adalah aspek pengalaman keagamaan dengan mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena keagamaan secara konsisten dalam orientasi keimanan/kepercayaan obyek yang diteliti. Pendekatan ini melihat agama sebagai kompenan yang berbeda dan dikaji secara hati-hati berdasarkan tradisi keagamaan untuk mendapatkan pemahaman di dalamnya. Fenomenologi  agama muncul dalam upaya untuk menghindari pendekatan-pendekatan yang sempit, etnosentris, dan normative dengan berupaya mendeskripsikan pengalaman-pengalaman agama dengan akurat.
Menurut Noeng Muhadjir, secara ontologis pendekatan fenomenologi dengan penelitian agama mengakui 4 kebenaran, yaitu sensual, logis, etik dan transendental. Hanya saja kebenaran transendental dibedakan antara kebenaran insaniyah dan kebenaran ilahiyah. Kebenaran insaniyah diperoleh dengan menafsirkan dan mengembangkan maknanya akan tetapi tidak mampu menjangkau kebenaran subtansinya. Selain itu, metode-metode ilmu alam dan bebas nilai maka fenomenologi memiliki landasan dan berorientasi pada nilai-nilai seperi kemanusiaan dan keadilan.
1.2.4        LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL FENOMENOLOGI    
Ada enam langkah dalam tahapan pendekatan fenomenologi dalam studi agama yang ditawarkan oleh Geradus Van de Leeuw yaitu :
1.         Menhkalsifikasikan fenomena keagamaan dalam kategorinya masing-masing seperti kurban, sakramen, tempat-tempat suci, waktu suci, kata-kata/tulisan suci, festival dan mitor. Hal ini dilakukan untuk dapat memahami nilai dari masing-masing fenomena.
2.         Melakukan interpolasi dalam kehidupan peneliti, dari ari seorang peneliti dituntut untuk ikut membaur dan berpartisipasi dalam sebuah keberagamaan yang diteliti untuk memperoleh pengalaman dan pemahaman dalam dirinya sendiri.
3.         Melakukan “epoche” atau menudan penelaian dengan cara pandang netral.
4.         Mencari hubungan structural dari informasi yang dikumpulkan untuk memperoleh pemahaman yang holistic tentang aspek terdalam suatu agama.
5.         Tahapan-tahapan tersebut menurut Van der Leeuw secar alami akan menghasilkan pemahaman yang asli berdasarkan “realitas”/manifestasi dari sebuah wahyu.
6.         Fenomenologi tidak berdiri sendiri akan tetapi berhubungan dengan pendekatan-pendekatan yang lain untuk tetap menjaga obyektifitas.
Manusia persolan-persoalan yang dialami manusia adalah persoalan agama yang sebenarnya. Pergumulan dalam kehidupan pada dasarnya adalah pergunulan keagamaan. Para antropologis menjelaskan keberadaan agama dalam kehidupan manusia, dengan membedakan apa yang meraka apa yang mereka sebuat sebagai “common sense dan religious/mystical event” dalam satu sisi common sense mencerminkan kegiatan sehari-hari yang biasa diselesaikan dengan pertimbangan rasioanal ataupun dengan bantuan teknologi. Sedangkan religious sense adalah kegiatan/kejadian yang terjadi di luar jangkauan kemampuan nalar maupun teknologi.
Menurut emile Emile Durkhein tentang fungsi agama sebagai penguatan social, atau Sigmund Frend yang mengungkapkan posisi penting agama dalam penyeimbang gejala kejiwaan manusia, sesunguhnya mencerminkan betapa agama begitu penting bagi eksistensi manusia. Walaupun harus disadari pula bahawa usaha-usaha manusia untuk menafikkan agma juga sering muncul dan juga fenomena global masyarakat. Dua sisi kajian ini, usaha untuk memahami agama dan menegaskan eksistensi agama, sesungguhnya menggambarkan betapa kajian tentang agama adalah persolan universal manusia. Oleh karena itu, antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam, sebagai alat memahami realitas kemanusiaan dan memahami islam yang telah dipraktikkan yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagaman manusia.
Di Indonesia usaha para antropologi untuk memahami hubungan agama dan social telah banyak dilakukan. Pandangan Greertz yang mengungkapkan tentang adanya trikotomi abangan, santri dan priyayi di dalam masyarakat Jawa, ternyata telah mempengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis baik tentang hubungan antar agama dan budaya, ataupun hubungan antara agama dan politik.
Teori politik aliran menurut Bahtiar Effendy memberikan arti penting terhadap wacana tentang hubungan antara agama, khususnya Islam dan Negara. Teori politik aliran dapat digunakan untuk memberikan penjelasan yang baik mengenai salah satu dasar pengelompokan religion-sosial di Inodonesia. Pengelompokan social tersebut mempengaruhi pola interaksi politik yang lebih luas di Indonesia.
Karya Geertz ini disebut untuk sekedar memberikan ilustrasi bahwa kajian antropologi di Indonesia telah berhasil membentuk wacana tersendiri tentang huungan agama dan masyarakat secara luas. Antropologi yang melihat langsung secara detail hubungan antara agama dan masyarakat secara luas. Antropologi yang melihat secara langsung secara detail hubungan anatar agama dan masyarakat dalam tataraan grassrot memberikan informasi yang sebenarnya yang terjadi dalam masyarakat. Melihat agama di masyarakat menurut antropologi adalah melihat bagimana agama dipraktekkan, diinterpretasikan dan diyakini oleh penganutnya, jadi pembahasan tentang hubungan agma dan budaya sangat penting untuk melihat agama yang dipraktekkan.
Agama sebagai ethos telah membentuk karakter yang khusus bagi manusia yang kemudian dia bisa memenuhi gambaran realitas kehidupan yang hendak dicapai oleh manusia.
Kajian antropologi juga memberikan fasilitas bagi kajian Islam untuk lebih melihat agama terpengaruh oleh budaya dalam praktik Islam. Pemahaman realitas nyata dalam sebuah masyarakat akan menemukan sebuah kajian Islam yang lebih empiris. Artinya kajian agama harus diarahkan pada pemahaman aspek-aspek yang melingkupi agama. Kajian agama secara empiris dapat diarahkan ke dalam 2 aspek yaitu, manusia dan budaya. Pada dasarnya agama diciptakan untuk membantu manusia agar dapat memenuhi keinginan-keinginan kemanusiaannya dan sekaligus mengarah kepada kehidupan yang lebih baik. Hal ini jelas menunjukkan bahwa persoalan agama yang harus diamati secara empiris adalah tentang manusia, tanpa memahami manusia maka pemahaman tentang agama tidak akan menjadi sempurna.
1.2.5        SISI POSITIF DARI FENOMENOLOGI AGAMA
Fenomenologi agama merupakan sebuah gerakan pengembangan dalam pemikiran dan penelitian diman peneliti mencoba memahami manusia dan mengklasifikasikannya. Beberapa poin yang dianggap sebagai sisi positif dari fenomenologi agama, antara lain :
1.      Fenomenologi agama berorientasi pada factual deskriptif, di mana tidak concern pada penilaian evaluative akan tetapi mendeskripsikan secara tepat dan akurat suatu fenomena keagmaan. Seperti, ritual, symbol, ibadah (individual mapun seremonial) , teologi (lisan atau tulisan), personal yang dianggap suci, seni dan sebaginya.
2.      Tidak berusaha menjelaskan fenomena yang dideskripsikan terlebih membakukan hukum-hukum universal untuk memprediksikan persoalan-persoalan keagamaan di masa depan akan tetapi untuk mencari pemahaman yang memadai terhadap setiap persoalan keagamaan.
3.      Perbandingan dalam pengertian terbatas diimana mengkomporasikan berbagai tradisi keagamaan, namun fenomenologis tidak berusaha menyamakan/mengunggulkan salah satu tradisi keagamaan tertentu.
4.      Menghindari reduksionisme ddalam arti murni memahami fenomena keagamaan dalam term sosiologi, psikologi, antropologi dan ekonomi saja tanpa memperhatikan kompleksitas pengalam manusia, memaksakan nilai-nilai social pada isu-siu transcendental dan mengabaikan intensionalitas unik para pelaku tradisi keagamaan.
5.      Menuda pertanyaan tentang kebenaran dalam hal ini mengembangkan awasan terhadap esensi terdalam suatu pengalaman keagamaan. Fenomenologi beruapaya terlibat/berpartisipasi langsung untuk memperoleh empati pemahaman asli
6.      Terakhir mengembangkan struktur esesnsial dan makan sebuah pengalaman keagamaan.
1.2.6        SISI NEGATIF FENOMENOLOGI AGAMA
Terlepas dari berbagai berbagai kelebihan pendekatan fenomenologi terdapat beberapa kesulitan untuk memahami esensi dari suatu pengalam keagamaan dan manifestasi. Dalam hal ini ada beberapa ktirik terhadap fenomenologi agama, antara lain:
1.         Peranan Deskriptif
Fenomenologi agma mengklaim pendekatanya deskriptif murni yang resisten terhadap campur tangan peneliti, namun tidak mustahil seseorang fenomenolog memiliki kepentingan maksud-maksud tertentu dan dalam mengkontrol data-data dan metode yang digunakan. Dalam hal ini kurang tepat jika fenomenologi dikalim sebagai pendekatan deskriptif murni.
2.         Melihat peristiwa keagamaan tanap melihat akar historisnya. Fenomenologi agama dinilai cenderung memperlakukan fenomena kegamaan dalam isolasi sejarah seolah-olah sejarah tidak diperlukam dalam menentukan relasi fakta-fakta fenomena bagi praktisi agamawan. Dalam prakteknya seringkali fenomenologi agama tidak mampu mengkontekstualisasikan fenomena-fenomena keagamaan yang dikajinya.
3.         Persoalan empati adaya kekhawatiran terjadinya konversi agama karena tuntunan untuk berpartisipasi langsung dalam praktek dan ritual kegamaan.






















BAB III
PENUTUP
1.1.       KESIMPULAN
Fenomenologi agama meruapakan sebuah gerakan pengembangan pemikiran dan penelitian di mana peneliti mencoba memahami manusia dan mengklasifikasi kan fenomena secara spesfik termasuk fenomena keagamaan.
Faktor agama sendiri merupakan suatu atau sebuah fenomena yang benar-benar terjadi yang di dalamnya terdapat beberapa permasalahan yang belum tentu menurut agama benar.
Posisi penting manusia dalam memahami Islam mengidentifikasikan bahwa persoalan uatama dalam memahami Islam adalah bagiamana cara untuk memahami Islam adalah bagaimana cara untuk memahami manusia. Dengan demikian memahami Islam  yang telah berproses dalam sejarah dan budaya tidak akan lengkap tanpa memahami manusia. Oleh karena itu, antropologi sangat diperlukan untuk memahami realitas kemanusiaandan memahami Islam yang tekah dipraktikkan Islam that is practiced yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagamaan manusia.














DAFTAR PUSTAKA

-          ABDULlah, M. Amin,”relivasi study Agama-agama dalam milenium ketiga” dalam amin Abdullah dkk., mencari islam (studi studi dengan berbagai pendekatan), Yogyakarta: Tira Wacana, 2000
-          Mudzhar, M. Atho’, pendekatan studi islm dalam teori dan praktek, Yogyakarta: pustaka pelajar. 2004.
-          Muhti AQli”penelitian Agama di Indonesia” dalam Mulyanto sumadi, penelitian Agama. Masalah dan pemikiran, Jakarta : Sinar Harapan, 1982.
-          Nasution, khoruddin,”pembidangan ilmu dalam studi islam dan kemungkinan pendekatannya” dalam amin Abdullah dkk, Yogyakarta : IAIN Sunan kalijaga, 2002.
-          Mariasusai, Dhavamony, Fenomenologi Agama, Tim studi Agama, Drikarya, Yogyakarta : kanisius, 1995.
-          Taufik Abdullah, kata pengantar dalam Taufik Abdullah Dan M, Rusli karim.(Ed), Methodelogi penelitian Agama ; suatu pengantar, Yogyakarta : Tiem Wacana, 2004.
-          Http//en.wikipidia.org/phenomenology of religion, dikutip 6 januari 2011.
-          Shidiqi, Nourouzzaman,”sejarah : pisau bedah ilmu keislaman” dalam Taufik Abdullah (Ed), Metodologi penelitian Agama, sebuah pengantar, Yogyakarta : Tiara wacana, 1991.











No comments: